Share

Kemana Komnas HAM Saat Petugas Kepolisian Diserang Secara Brutal?

BIDHUMAS PMJ – Jakarta, Selasa (28/06/2016).

Kebrutalan suporter pendukung Persija yang melakukan serangan terhadap petugas Kepolisian Negara, mendapatkan sorotan kritis dari Ketua Umum Ormas Pembela Kesatuan Tanah Air Indonesia Bersatu (Pekat IB) H Markoni Koto.
Dalam kejadian yang berlangsung usai laga Persija versus Sriwijaya FC di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Jumat (24-06-2016), mengakibatkan Brigadir Hanafi, petugas dari Polda Metro Jaya mengalami luka parah dan harus dirawat di Rumah Sakit Polri Kramatjati, Jakarta Timur.

Ketua Umum Pekat IB, H Markoni Koto, mempertanyakan sikap diam Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) saat aparat kepolisian dikeroyok suporter di Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta.

“Kemana saja Komnas HAM? Polisi dikeroyok massa hingga sekarat, mereka diam saja. Apakah pengeroyokan aparat penegak hukum ini bukan sebuah pelanggaran HAM,” tanya H Markoni Koto, di Jakarta, Senin (27/06/2016).

Markoni Koto menambahkan, selama ini Komnas HAM akan langsung bereaksi keras jika melihat aparat kepolisian melakukan tindakan tegas terhadap satu atau dua orang perusuh. Meskipun mereka melanggar hukum dan membahayakan masyarakat banyak. Mereka akan mengatakan kalau polisi telah melakulan pelanggaran HAM.

“Tapi saat anggota polisi sebagai penegak hukum dikeroyok dan dihajar oleh sekelompok massa hingga kritis, Komnas HAM diam saja. Apakah kejadian seperti ini di kaca mata Komnas HAM bukan sebuah pelanggaran HAM?” tanya Markoni.

Ia menegaskan, Komnas HAM selalu melihat tindakan kepolisian dari sisi pelanggaran HAM. Di mata Komnas HAM, lanjut Markoni, polisi selalu salah.

“Komnas HAM tidak pernah melihat sebuah kasus secara berimbang. Mereka menggunakan kaca mata kuda yang hanya membenarkan mereka sendiri,” kata Markoni.

Pekat IB mencurigai, Komnas HAM Indonesia memiliki agenda terselubung yang didukung negara asing untuk menghancurkan kredibilitas kepolisian. “Mereka adalah antek-antek asing yang ingin menghancurkan Indonesia dengan topeng hak asasi manusia,” kata Markoni.

Leave a Comment