Share

Beras Busuk Berpemutih Beredar di Pasar

BIDHUMAS PMJ – Dit Krimsus PMJ, Rabu (27/04/2016).

DIREKTORAT Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Metro Jaya, Selasa (26/4), mengungkap jaringan pengoplos beras tak layak konsumsi asal Vietnam.Direktur Reskrimsus Kombes Mudjiono mengatakan modus jaringan itu ialah membeli beras yang sudah busuk dari Vietnam, kemudian mencampurnya dengan beras lokal, lalu diberi bahan kimia agar warna beras menjadi putih terang.

“Pelaku berinisial IN. Dia beli beras busuk Vietnam yang sudah dibuang atau biasanya untuk pangan ternak. Oleh pelaku, beras itu dicampur beras lokal, diberi bahan kimia supaya warnanya putih bersih dan terlihat berkualitas bagus,” terang Dir Krimsus PMJ . Pelaku, sambungnya, mengoplos beras-beras busuk itu di sebuah gudang di kawasan Jalan Raya Prancis, Kosambi, Tangerang. Beras oplosan tersebut selanjutnya dikemas dalam ka­rung berukuran 15 kg dan diberi merek ‘Bulog’.

“Ini tentunya menyesatkan dan merugikan masyarakat yang membeli beras itu. Masyarakat tidak tahu karena tulisan di karungnya ‘Bulog’, terlihat seperti asli,” kata Dir Krimsus .Dalam sekali oplos, lanjutnya, pelaku yang mengaku sudah satu tahun beroperasi itu mampu menghasilkan 30 ton beras oplosan. Beras-beras itu kemudian dijualnya ke pasar dan toko beras di wilayah Jabodetabek dengan keuntungan Rp500 per liter.

“Sekali keluar gudang, jumlahnya mencapai 30 ton beras. Tinggal dikalikan saja berapa keuntungan. Secara keseluruhan, keuntungan sekali keluar gudang sampai Rp1,4 miliar dan itu jadwalnya bisa sebulan sekali atau dua minggu sekali,” ujar Dir Krimsus PMJ. Berdasarkan informasi, beras itu dibeli IN dari 10 orang yang saat ini diperiksa sebagai saksi. Mereka ialah orang-orang yang memenangi tender di Bulog untuk memusnahkan atau menjadikan beras yang sudah tidak layak itu sebagai pakan ternak.

“Kalau memang di antara mereka ada yang mengetahui beras itu dibeli untuk dioplos dan dipasarkan, tidak tertutup kemungkinan akan ada tersangka baru,” ka­ta salah satu penyidik di Polda Metro Jaya. “Kami kembangkan sampai tuntas. Tersangka akan dijerat UU tentang Perlindungan Konsumen, UU Pangan, dan juga UU Pencucian Uang. Jika ada imbas bagi kesehatan, kami tambahkan UU tentang Kesehatan,” katanya.

Kepala Bulog DKI-Banten Agus Dwi Indiarti yang juga membantu dalam pengungkapan kasus itu mengatakan, secara kasatmata, sulit membedakan beras yang dioplos pelaku dengan beras yang dipasarkan Bulog. “Secara kasatmata, tidak terlihat perbedaannya,” ujarnya.

Leave a Comment