Share

Polda Metro Jaya Release Kasus Aborsi di Jakarta Pusat.

BIDHUMAS PMJ – Rabu (24/02/2016)

Subdit Sumdaling Dit Reskrimsus Polda Metro Jaya berhasil mengungkap kasus dugaan tindak pidana di bidang kesehatan dalam hal ini praktek aborsi yang tidak sesuai peraturan.

Press release pengungkapan kasus tersebut di gelar di TKP Jl. Cimandiri Cikini Jakarta Pusat pada Rabu (24/02/2016) dan dihadiri oleh Kasubdit Sumdaling Dit Reskrimsus Polda Metro Jaya AKBP Adi Vivid beserta jajaran, perwakilan dari Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta Ibu Tienke beserta sejumlah Dokter dan perwakilan dari MUI Bapak Armani Faisal.

Dalam release tersebut Kasubdit Sumdaling mengatakan bahwa awal terungkapnya kasus ini dari maraknya penawaran jasa aborsi di beberapa Website.

Didalam catatan kami ada 9 Website yang menawarkan jasa tersebut, kita akan tindak lanjuti. Ucap Kasubdit.

Kasubdit menambahkan, setelah mencoba melakukan komunikasi dan mendapat respon, kemudian disepakati untuk bertemu di KFC Cikini antara tersangka dengan Polwan yang menyamar.

Setelah dipastikan bahwa praktek aborsi tersebut ilegal, kita langsung melakukan penggerebakan dan penangkapan terhadap para tersangka, tutur Kasubdit.

Pada kasus ini petugas berhasil membongkar praktek aborsi ilegal di dua TKP berbeda, diantaranya di jalan Cimandiri dan di jalan cisadane Jakarta Pusat.

Di dua TKP tersebut petugas berhasil menangkap 9 tersangka yang masing-masing memiliki peran berbeda, disamping itu petugas juga berhasil nenangkap dokter berinisial N (75 th) dan masih mengejar satu dokter lagi berinisial MN alias A yang selain menjadi dokter juga sebagai pengelola.

Kabid Pelayanan Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta Ibu Tienke mengatakan bahwa Dinas kesehatan telah lama mendapat informasi dari masyarakat mengenai adanya praktek aborsi ilegal di daerah ini, namun kami mengalami kesulitan karena tempat yang dijadikan praktek aborsi disamarkan dengan usaha lain.

TKP yang berada di jalan Cimandiri Jakarta Pusat tersebut memang memalsukan identitas prakteknya menggunakan usaha praktek Kantor Hukum dan Kantor Travel Agent.

Dari hasil pemeriksaan sementara, harga yang ditawarkan untuk melakukan aborsi berbeda-beda tergantung usia kandungan, contohnya usia kandungan dibawah 3 bulan berkisar antara 2,5 – 3 juta, namun untuk usia kandungan 6 bulan harga yang ditawarkan mencapai 10 juta rupiah.

Praktek yang diketahui berjalan sudah cukup lama ini menggunakan jasa calo yang sering berada di pinggir jalan Cikini untuk mencari korban dengan bayaran 40% dari harga.

Selain mengamankan barang bukti yang digunakan untuk melakukan praktek aborsi, petugas juga melakukan penyedotan sepiteng yang diduga janin aborsi tersebut dibuang langsung ke sepiteng.

Kesembilan tersangka dijerat dengan pasal 75 Jo pasal 194 UU RI No. 36 tahun 2009 tentang kesehatan dengan ancaman hukuman penjara 10 tahun dan denda Rp. 10 Milyar, kemudian pasal 73, 77, 78 UU RI No. 29 tahun 2004 tentang praktek kedokteran dengan ancaman penjara 5 tahun denda Rp. 150 juta.

Selain itu juga dijerat dengan pasal 64 jo pasal 83 UU RI no. 36 tahun 2014 tentang tenaga kesehatan dengan ancaman penjara 5 tahun, selanjutnya pasal 299 dan 346 KUHP dengan ancaman penjara 4 tahun, kemudian pasal 348 KUHP ancaman penjara 5 tahun 6 bulan, pasal 349, 55 dan 56 KUHP.

Petugas akan terus mengembangkan kasus ini hingga klinik-klinik lain yang membuka praktek serupa tanpa mengantongi izin dapat ditindak.

Ibu Tienke menghimbau kepada masyarakat agara mendatangi klinik yang memiliki izin dan memasang papan nama yang berisi tulisan nama dokter dan izin praktek.

Sementara itu dikesempatan yang sama perwakilan MUI Bapak Armani Faisal mengatakan bahwa aborsi dan pelayanannya adalah haram dan dosa besar, hal itu sesuai dengan Fatwa MUI mengenai pelanggaran terhadap beberapa UU terkait aborsi.

Leave a Comment