Share

Penculik & Pembunuh Bocah SD di Depok Diancam Hukuman Mati

BIDHUMAS PMJ – Depok, Kamis (11/02/2016).

Aparat Reskrim Polresta Depok berhasil mengungkap motif pelaku Yuniar Arifin als Begeng,35, menculik dan membunuh J,7, bocah SD, lantaran terbentur biaya pernikahan. Sekaligus membeberkan hasil visum korban dari RS.Polri Kramat Jati.

Kapolresta Depok Kombes Pol. Dwiyono,SiK, MSi mengatakan pernikahan yang akan dilangsungkan pelaku dengan T,25, warga Pamulang, pada 5 Maret nanti. Berujung membuat panik pelaku lantaran harus menyiapkan uang pesta Rp.250 juta. Di balik itu, pelaku juga belum memegang uang.

“Jauh-jauh hari pelaku telah merencanakan penculikan terhadap korban yang kebetulan juga sudah mengenal pelaku,”ujar Kapolres kepada Humas Polresta Depok usai keterangan pers di Aula Atmani Adhi Wedhana, Mapolres Depok, Kamis (11/2/16) siang.

Kapolresta Depok mengatakan rencana pelaku akan meminta tebusan sebesar Rp.75 juta ke keluarga korban.

Selain itu Kapolres dalam kasus ini menerapkan scientific identification. yaitu tidak harus berdasarkan dari keterangan pelaku, namun hasil bukti-bukti berupa visum dan psikologi dapat menjadi acuan dasar penyelidikan.

“Dalam penyelidikan kita terapkan scientific identification, karena pengakuan pelaku yang selalu berubah-ubah. Dengan pengumpulan barang bukti dan hasil visum termasuk psikolog akan bisa menjadi jalan lain untuk menempun pelaku menjadi tersangka,”ungkapnya.

Sementara itu, hasil pemeriksaan resmi baru keluar dari RS. Polri Kramat Jati terkait korban J, yaitu ada luka pada bibir dan luka memar atas bawah dalam dan luar. Lalu memar di hidung, memar pada punggung belakang.

“Korban juga mengalami bintik pendarahan jantung, liver, dan pembesaran pembuluh darah. Hal ini disebabkan dari faktor korban meninggal akibat dibekap pelaku menggunakan bantal,”paparnya.

Barang bukti kejahatan yang berhasil disita dari penggeledahan rumah pelaku yaitu, tas ransel dan sepasang sepatu korban. Dua buah bantal pink, pakaian korban, serta lakban hitam yang digunakan untuk mengikat tangan korban sebelum dibunuh diletakkan dalam kamar mandi.

“Berdasarkan hasil dari tim Psikolog, pelaku atau korban normal. Pelaku tidak ada disorentasi seksual,”tutupnya.

Untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya, pelaku dikenakan pasal 338 jo 340 KUHP dan UU Perlindungan Anak ancaman maksimal hukuman mati atau seumur hidup.”

Sebelumnya J, 7, pelajar kelas 1 SD di kawasan Beji dilaporkan diculik oleh keluarga korban pada Sabtu (6/2/12) siang sehabis pulang sekolah. Tidak lama kemudian, atau kurang dari 13 jam, pelaku berhasil ditangkap di rumah kediamannya pada Minggu (7/2/16) subuh. Korban telah ditemukan meninggal tergeletak di dalam kamar mandi. (edo)

Leave a Comment