Share

Inilah Hasil Investigasi Kasus Novel Baswedan

TRIBRATA NEWS METRO – DKI Jakarta, Senin (15/02/2016).

Tim Pengacara Kompol Novel Baswedan, Hariz Azhar memaparkan hasil sementara investigasi peristiwa penganiayaan melalui tembakan terhadap 6 orang yang diduga melakukan pencurian sarang burung walet di kota Bengkulu, 18 Februari 2004.

Haris memaparkan itu bersama wakil ketua Komnas HAM Nurholis, kakak kandung Novel, Taufik Baswedan serta koordinator ICW, Emerson Juntho di kantor Komnas HAM, Jumat (12/10).

Peristiwa ini terjadi pada 18 Februari 2004 dikota Bengkulu. Peristiwa diawali dengan adanya dugaan tindak kriminal yang dilakukan oleh 6 orang (sesuai informasi polisi). Sdr. Novel baru menjabat Kasat Reskrim Polresta Bengkulu selama 4 hari pada saat kejadian. Pada malam kejadian, Sdr. Novel, dan beberapa anggotanya sedang melakukan ekspose perkara korupsi di ruangan Kasat Reskrim (Sdr. Novel).

Setelah ekspose, menjelang apel malam sekitar jam 9, ada informasi dari piket reskrim bahwa ada pelaku pencurian burung walet yang terjebak di dalam gedung walet dan tertangkap tangan oleh masyarakat. Selanjutnya seluruh personil yang ikut apel malam di minta oleh Sdr. Novel agar pergi ke TKP untuk membantu mengamankan TKP dan tersangka. Saat itu piket reskrim yang ke TKP yaitu MT, S, K, WK, D, R dan K. Sdr. Novel sendiri saat itu tidak berangkat ke TKP.

Di TKP, seluruh tersangka (6 orang) dan BB kemudian diamankan dan selanjutnya di bawa ke Mapolres. Saat di TKP, petugas reskrim juga menghubungi Sdr. Aliang selaku pemilik sarang butung walet dan memintanya untuk datang.

Di Markas Polresta, ke 6 tersangka mengalami tindakan kekerasan yang dilakukan oleh hampir seluruh personil Polres yang ada saat itu. Keenam tersangka tersebut selanjutnya diperiksa oleh piket Reskrim. Keenam tersangka tersebut kemudian di periksa (BAP) oleh piket reskrim. Saat pemeriksaan, keenam tersangka mengalami tindakan kekerasan oleh beberapa anggota reskrim. Selain itu, pada malam itu hampir seluruh perwira Polresta Bengkulu datang ke Mapolres (Kapolres/ MTS, Wakapolres, Kabagops, dan lain-lain.

Pada saat pemeriksaan oleh piket reskrim, ada kesepakatan dari tim buser (saat itu dipimpin oleh Sdr. AS) untuk dilakukan pengembangan. Selanjutnya ada pembagian tugas, sebagian piket melakukan pengembangan ke tempat lain dan sebagian membawa ke enam tersangka ke pantai (Nama Lokasi Pantai adalah Taman Wisata Alam Pantai Panjang). Personil yang ikut ke pantai bersama para tersangka yaitu Sdr. MT beserta anggota piket reskrim, serta Sdr. AS dan seluruh anggota buser. Sedangkan Sdr. Novel, Sdr. YS, dan beberapa orang lainnya belakangan menyusul tim yang menuju pantai. Novel datang ke lokasi penembakan, dipantai, bersama 4 orang lainnya.

Sesampainya di pantai, Sdr. Novel dan salah satu rekan semobilnya turun dari mobil untuk bergabung dengan tim yang sudah dahulu sampai. Ketika baru turun, mendengar ada teriakan “ada yang lari-ada yang lari” yang berasal dari pantai dan selanjutnya terdengar tembakan bersahutan. Setelah situasi reda, ternyata ke 6 tersangka mengalami luka tembak dibagian di kaki. Dikarenakan situasi yang gelap, tidak ada yang tahu siapa yang menembak siapa.

Selanjutnya Sdr. Novel memerintahkan ke enam tersangka dibawa ke rumah sakit Bhayangkara untuk dilakukan pengobatan. Dilokasi sudah ada 4 mobil buser dan puluhan polisi termasuk polisi dari kantor Polsek yang berada didekat pantai

Setelah dilakukan pengobatan, ke enam tersangka selanjutnya dibawa kembali ke Mapolresta Bengkulu. Saat di Mapolres, ke enam tersangka kembali dilakukan pemeriksaan dan juga kembali mengalami tindakan kekerasan yang berlebihan. Salah satu tersangka (Mulyan Johan/Aan (alm)), sampai jatuh dari anak tangga di lantai 2 ke lantai 1.

Beberapa anggota piket kemudian mengangkat tersangka Mulyan, karena ybs sudah tidak bisa berdiri lagi. Selanjutnya anggota piket membawa tersangka Mulyan ke rumah sakit Bhayangkara dengan menggunakan mobil buser.

Besok harinya, tersiar kabar bahwa tersangka Mulyan meninggal dunia di rumah sakit Bhayangkara. Selanjutnya setelah apel pagi, seluruh anggota Reskrim diberikan arahan oleh Kapolresta dan dihadiri oleh beberapa pejabat Polresta lainnya. Saat itu Kapolres meminta kepada Sdr. Novel untuk mengurus adminitrasi penyidikan dan pemberkasan perkara pencurian tersebut, serta pengurusan jenazah tersangka Mulyan.

Sdr. Novel selanjutnya menemui keluarga korban dan selanjutnya bersepakat melakukan perdamaian dengan keluarga korban yang menerima kejadian tersebut. Surat perjnajian perdamaian kemudian dibuat antara Sdr. Novel mewakili Kapolres dengan keluarga korban yang salah satu isinya keluarga korban tidak mengajukan keberatan baik pidana ataupun perdata atas meninggalnya tersangka Mulyan. Berdasarkan surat perdamaian tersebut, akhirnya tidak dilakukan proses pidana atas kejadian meninggalnya tersangka Mulyan.

Pada 19 Pebruari 2004, keluarga dihubungi pihak kepolisian dan meminta orangtua ke Polda Bengkulu. Di polda disampaikan informasi bahwa Aan telah meninggal dunia. Keluarga diminta untuk tidak menuntut. Keluarga disuruh pulang dan menunggu dirumah. Tidak ada otopsi. Jenazah di dalam peti dan tidak boleh dibuka. Kasat saat itu Novel menyakinkan keluarga akan mengusut secara tegas yag terlibat dalam pembunuhan tersebut. Novel memberikan santunan. Novel pun sempat ke keluarga Aan dalam beberapa hari kemudian.

Sedangkan profil Aan adalah instruktur fitness ‘Geronimo’. Dia juga atlit binaraga. Lokasi wallet ada dilantai 3 tempat fitness tersebut. Keluarga menyangsikan bahwa Aan terlibat pencurian. Saat ini gedung yang menjadi lokasi pencurian dan tempat sarang walet tersebut sudah beralih tangan dan fungsi menjadi Universitas Muhammadiyah Bengkulu. Belum dapat informasi dari sekitar gedung tersebut mengenai peristiwa 2004.

Setelah itu, perkara meninggalnya tersangka Mulian tersebut diproses pelanggaran kode etiknya oleh Bid Propam Polda Bengkulu. Sebagaimana informasi yang kami dapat, atas kesepakatan para 2 pejabat utama Polda dan 1 pimpinan Polres kota Bengkulu, diambil jalan tengah dan disepakati uraian kejadian meninggalnya tersangka Mulian adalah sebagai berikut: Setelah dilakukan penangkapan terhadap 6 tersangka, tersangka Mulyan dipisahkan tersendiri dan di bawa untuk dilakukan pengembangan. Saat dilakukan pengembangan tersangka Mulyan berusaha melarikan diri dan selanjutnya petugas melakukan upaya pengejaran dan pelumpuhan yang menyebabkan tersangka Mulyan tertembak dan terjatuh.

Ketika terjatuh, kepala tersangka Mulyan terkena batu yang kemudian mengakibatkan tersangka Mulia meninggal dunia. Tempat Kejadian Perkara meninggalnya tersangka Mulian pun dilakukan perubahan, dimana yang bersangkutan dinyatakan tertembak dan terjatuh di tidak suatu tempat (bukan di pantai dan di kantor polres). Laporan peristiwa meninggalnya Aan direkayasa dengan menyatakan bahwa lokasi penembakan terjadi dijalan Mangga 4 Lingkar Timur RT 19/06 dengan dalih Aan berusaha melarikan diri.

Atas kesepakatan para pejabat utama juga, saat itu Sdr. NOVEL diminta untuk bertanggung jawab atas perbuatan dari anggotanya. Selanjutnya Sdr. Novel dan beberapa anggota Reskrim akhirnya di sidang dispilin/kode etik dan dikenakan hukuman teguran keras. Setelah terbitnya vonis tersebut, perkara tersebut dinyatakan selesai. Ketiga, Upaya Pengungkapan Kembali (per September 2012).

Sejumlah informasi yang masih perlu diverifikasi oleh tim independen adalah: Dir Reskrimun, D (piket reskrim saat kejadian) dan beberapa pejabat Polda Bengkulu lainnya telah dipanggil oleh Bareskrim dan menghadap pada sekitar 2-3 minggu yang lalu.

Selanjutnya datang tim dari Bareskrim dan Propam ke Bengkulu yang terdiri dari seorang orang Jendral dan beberapa Pamen. Mereka selanjutnya bersama-sama dengan penyidik Dit Reskrimum Polda Bengkulu merumuskan konstruksi penyidikan perkara ini. Tim Propam Mabes datang ke Polres Kota Bengkulu untuk mengambil berkas sidang disiplin. Kemudian datang tim dari Bareskrim dipimpin 1 jenderal, diduga kuat Dir 1 Bareskrim Polri.

Laporan Polisi baru teridentifikasi nomor: LP.A/1265/XI/2012/SPKT tanggal 1 Oktober 2012. Informasinya untuk Laporan Polisi ada 2 (dua) versi. Versi awal difokuskan pada korban meninggal dunia (Mulyan), akan tetapi karena keluarga korban tidak mau melapor, akhirnya fokus laporan polisi di rubah ke korban yang mengalami luka ( Dedi dan Iwan).

Beberapa anggota yang terlibat waktu itu seluruhnya dengan latar belakang bintara, sudah dilakukan pemeriksaan oleh Ditreskrimum Polda Bengkulu, jumlahnya sekitar 20-an. Belum ada pemeriksaan terhadap para perwira yang terlibat dan mengetahui kejadian penembakan. Sdr. Novel selain dikenakan pasal penganiayaan, juga dikenakan pasal dalam (jabatannya) melakukan pembiaran terjadinya tindak pidana.

Seluruh saksi diarahkan untuk mendukung pembuktian pasal di atas. Beberapa saksi diminta untuk memberikan keterangan bahwa mereka melihat secara langsung Sdr. Novel melakukan penembakan terhadap para korban.

Dir Reskrimum dan 11 penyidik yang terlibat penyidikan perkara, saat ini dalam keadaaan tertekan karena mereka hanya menjalankan perintah dari Mabes Polri (Bareskrim).

Saat ini senjata yang disita sekitar 6 pucuk, 1 milik Kasat Reskrim dan sisanya milik anggota lainnya. Ada dugaan uji balistik hasilnya akan disesuaikan bahwa proyektil yang ditemukan di luka Iwan berasal dari senjata yang pernah dipakai Sdr. Novel.

Masalah lainnya, Mulian alias “Aan”, korban yang tertembak. Keluarganya tidak mau meneruskan kasus ini. Aan adalah instruktur fitness. Bukan maling sarang walet. dikarena keluarga Aan tidak mau, pendekatan kemudian dilakukan ke Iwan (yang tulang kakinya terkena peluru) dan Dedy. Dari keduanya ada pengakuan bahwa bukan Novel yang menembak. Iwan datang 1 Oktober 2012, tapi langsung di BAP. Operasi pengangkatan oeluru dilakukan pada 5 Oktober 2012. Tiga orang lainnya saat ini ada dalam tahanan polisi dalam kasus Narkoba. Iwan, saat dipanggil dengan alasan untuk rencana pengambilan peluru, mengobati luka. Namun sesampainya dikantor polisi justru diarahkan untuk membuat laporan kasus penembakan pada 18 Februari 2004.

Paska Pidato Presiden SBY dilakukan; pada 11 Oktober 2012 dilakukan olah TKP di pantai, dan Kasubbag Logistik melakukan persiapan untuk memfasilitasi kedatangan Kompolnas. Olah TKP dilakukan pimpinan Wadireskrim, 9 anggotanya dan 3 Brimob gegana mencari serpihan proyektil. Oleh TKO dilakukan sekitar jam 10.00-11.00 dilokasi lebih kurang 100 meter dari gerbang Taman Wisata Alam Pantai Panjang. Dua orang tersangka (pelapor dalam berkas Novel dengan dugaan penganiayaan) yaitu Dedi Mulyadi dan Erwansyah Siregar tidak dikeluarkan dari dalam mobil Innova berwarna Silver B 8437 GJ.

Setelah olah TKP selesai, salah satu diantaranya memberikan keterangan, “tidak tahu siapa yang melakukan penembakan karena kondisi gelap, .. Sebelum dibawa ke TKP penembakan mereka disiksa di polres, …Saat ditangkap mereka tidak disiksa oleh massa”.

Penyidikan saat ini dilakukan oleh Dirum Reskrim Polda Bengkulu, Didi Iriato dan Wadirum. Reskrim Polda Bengkulu, Thein Tebiro. Sementara ditingkat Polda Bengkulu ada; Max Mariner dan Syarif Hidayat serta 3 Penyidik Polres.

Kesimpulannya, ada dugaan praktek penyiksaan, ada dugaan rekayasa kasus pada kematian AaN. (TRIBRATANEWSMETRO)

Leave a Comment