Share

Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Metro Jaya Tangkap Komplotan ‘Nigerian Scam’, Wanita WNI Tertipu Rp 120 Juta

BIDHUMAS PMJ – Dit Krimsus PMJ, Minggu(24/01/2016).

Ini peringatan bagi para wanita untuk berhati-hati saat berkenalan dengan pria di Facebook. Jangan sampai menjadi korban ‘Nigerian Scam’ yaitu komplotan pria kulit hitam yang menyaru sebagai pria kulit tampan dan kemudian berpura-pura hendak mengirim paket uang. Kasus tersebut dilaporkan oleh seorang perempuan berinisial R. Dalam laporan resminya bernomor LP/5517/XII/2015/PMJ/Dit Reskrimsus, tanggal 22 Desember 2015, R melaporkan seorang pria teman Facebooknya, yang mengaku sebagai tentara AS.

“Pelaku mengaku sebagai tentara Amerika yang akan mengirimkan paket uang untuk diinvestasikan di Indonesia, padahal bukan. Korban mengalami kerugian sampai Rp 120 juta atas kejadian itu,” ujar Direktur Reskrimsus Polda Metro Jaya Kombes Pol Mujiyono, Minggu (24/1/2016). Setelah mendapatkan laporan korban, tim Unit 3 Subdit Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Metro Jaya kemudian menangkap pelaku pada tanggal 13 Januari 2016. Ada tiga orang yang ditangkap polisi.

“Mereka ini komplotan yang diotaki oleh WN Nigeria,” imbuh Kombes Pol Mujiyono. Tiga tersangka yang sudah ditangkap yakni CEM (46), WN Gambia yang ditangkap di Apartemen Aston Marina Tower C; AJ alias Lily alias Hanny Irawatu (36), WNI ditangkap di Apartemen Gading Nias Tower Emerald, Kelapa Gading, Jakut; dan DCS alias Sammy (25), WN Nigeria yang ditangkap di Rusun Petamburan lantai 1 Blok 6.

Kasubdit Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Metro Jaya AKBP Suharyanto menjelaskan, modus operandi yang dilakukan tersangka adalah dengan mencari sasaran melalui akun Facebok. “Tersangka DCS membuat akun Facebook dengan akun Sparrow Kemneth pada November 2015 yang mencantumkan foto profil tentara AS,” ungkap AKBP Suharyanto.

Korban kemudian berkenalan dengan tersangka. Dalam Facebook tersebut, tersangka ‘Sparrow’ ini mengatakan bahwa dirinya tertarik untuk berinvestasi di Indonesia.

“Setelah cukup intens, tersangka kemudian mengatakan akan berinvestasi di Indonesia dan hendak mengirimkan paket uang USD 800 ribu kepada korban,” lanjut AKBP Suharyanto. Korban kemudian diiming-imingi akan diberikan sejumlah uang atas bantuannya menerima uang tunai tersebut dan menyanggupi permintaan tersangka. Hingga akhirnya, pada 18 Desember 2015, tersangka AJ alias Lili alias Hanny Irawati yang sudah dihubungi tersangka DCS, memainkan perannya.

“Tersangka AJ berperan seolah-olah sebagai pegawai Bea Cukai Bandara Sorkarno-Hatta dan menghubungi korban, bahwa paket uang USD 800 ribu sudah sampai di Bandara Soekarno-Hatta,” terang AKBP Suharyanto. Tetapi, untuk mengeluarkan paket tersebut, korban diminta untuk mentransfer uang ke 2 rekening bank yang berbeda atas nama Aryanto Arby dan Hanny Irawati. Korban pun kemudian mengirimkan uang sebesar Rp 120 juta.

Tak cukup puas dengan uang tersebut, tersangka kembali diperdaya. Pada tanggal 21 Desember 2015, korban diajak oleh tersangka untuk bertemu di sebuah apartemen di kawasan Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jaksel.

“Di situ, korban diperlihatkan paket uang oleh tersangka Prince (DPO), kemudian diperlihatkan uang 3 lembar black dollar masing-masing USD 100 diolesi dengan cairan kimia kemudian berubah menjadi dollar. Korban diberi selembar uang dollar senilai USD 100 hasil pencucian itu,” ucap AKBP Suharyanto. Selanjutnya, korban diminta untuk mentransfer kembali uang Rp 210 juta untuk membeli cairan kimia tersebut agar paket uang secepatnya bisa diambil korban. Namun korban tidak percaya, sehingga tidak mentransferkan uangnya.

Korban selanjutnya melaporkan tersangka ke Subdit Cyber Crime Ditreskrimum Polda Metro Jaya.

“Dari uang hasil kejahatan yang Rp 120 juta itu dinikmati oleh tersangka DCS sebesar Rp 46 juta, CE alias Moris sebesar Rp 36 juta dan tersangka AJ sebesar Rp 38 juta,” tutur AKBP Suharyanto. Dari para tersangka, polisi menyita barang bukti 5 unit laptop, 3 unit HP, 2 buah modem, paspor, 10 unit handphone, dan 18 buah SIM Card serta 27 buah rekening berikut 17 kartu ATM dan uang tunai Rp 10 juta.

Para tersangka dijerat dengan Pasal 378 KUHP juncto Pasal 55 KUHP dan atau Pasal 480 KUHP dan atau Pasal 263 KUHP dan Pasal 3,4,5 UU No 8 Th 2010 tentang TPPU dengan ancaman pidana maksimal 20 tahun.(edo)

Leave a Comment