Share

Begini cara Polresta Depok tidak kecolongan aksi teror

BIDHUMAS PMJ – Depok, Jum’at (22/01/2016).

Polresta Depok tidak mau kecolongan aksi teror. Berbagai cara diupayakan, juga bersinergi dengan berbagai pihak. Kasus teror bom Sarinah membuat semua pihak waspada. Termasuk Depok, mengingat pernah punya riwayat terorisme.

Kapolresta Depok Kombes Pol. Dwiyono, SiK, MSi mengajak semua pihak, antara lain pemerintah, TNI, dan Polri bersatu guna mempersempit ruang gerak terorisme. Menurutnya, cara yang bisa dilakukan adalah pendataan warga dengan mengecek laporan jika ada orang hilang, juga warga yang latihan perang-perangan.

“Perlu penyamaan persepsi untuk pencegahan terhadap pelaku teror,” katanya dalam kegiatan penguatan tiga pilar di Balaikot Depok, Kamis (21/01/2016).
Dwiyono menambahkan, teror bom Sarinah mengindikasikan kegagalan dalam deteksi dini ancaman yang sudah didapatkan awal Desember. Polresta Depok sendiri mendapatkannya, dan memperketat pengamanan karena teror mengancam perayaan Natal dan Tahun Baru.

“Berkat sinergi semua pihak, pelaku mengurungkan niatnya ketika bulan Desember namun ternyata kemarin Kamis dilaksanakannya (bom Sarinah),” jelasnya.
Dijelaskannya, saat ini ada istilah “konser” yang berarti akan melakukan aksi teror. Depok tetap waspada untuk itu, dia pun mengimbau semua bergerak bersama. Caranya dengan mempersempit ruang gerak pelaku teror.

Kombes Pol. Dwiyono, SiK, MSi mengungkapkan, kasus bom Sarinah merupakan kasus tindak terorisme yang cukup besar persiapannya. Tidak tanggung-tanggung, para pelaku memiliki bom dan dipersenjatai.
“Pelaku bom Thamrin tercatat ada tiga orang, dan dikendalikan oleh Maman Abdurrahman,” ungkapnya.

Saat ini, tambah dia, yang menjadi sasaran terorisme bukan hanya orang asing. Sasaran sudah beralih pada mereka yang tidak sepaham ajarannya. “ Target objek vital, bisnis asing, WNA ,dan aparat juga. Tetap harus selalu waspada,” tutupnya. (edo)

Leave a Comment