Share

Jajaran Polres Depok Silaturahmi dengan Istri Tokoh Polisi Nasional yang Jujur

Bertempat di Jl Pesona Khayangan Blok DH No01 Rt09 Rw24, Mekar Jaya, Sukmajaya, Kota Depok, Jajaran, PNS, dan Bhayangkari Polres Kota Depok, bersilaturahmi ke kediaman Merry Roeslani Hoegeng yang merupakan istri dari Hoegeng Imam Santoso, seorang tokoh polisi nasional.

Giat dari Kapolres Kota Depok Kombes Pol Didik Sugiarto, SH, SIK, ini turut dihadiri oleh Kabag Sumda Polresta Depok; Kasie Propam Polresta Depok; Wakpolsek Sukmajaya; Paurkes Polresta Depok; dan lain-lain.

Untuk diketahui, sosok suami Merry Hoegeng merupakan seorang polisi jujur yang dipensiunkan dini oleh Soeharto saat dirinya masih menjabat sebagai presiden. Jenderal Hoegeng adalah perwira tinggi yang menjadi Kapolri sejak 9 Mei 1968 silam.

Hanya berselang tiga tahun, Jenderal Hoegeng dicopot oleh Soeharto secara tiba-tiba pada 2 Oktober 1971. Sebelumnya, Jenderal Hoegeng pernah ditawari menjadi duta besar Swedia dan Belgia.

Jajaran Polresta Depok bersilaturahmi ke kediaman Ibu Hoegeng Imam Santoso. (Foto: PMJ News).
Tetapi, tawaran menggiurkan itu ia tolak mentah-mentah dengan alasan masih ingin mengabdi di Indonesia. Saat diturunkan dari jabatannya sebagai Kapolri, Jenderal Hoegeng masih berusia 49 tahun.

Di usia tersebut Jenderal Hoegeng termasuk masih produktif. Banyak yang bertanya apa alasan pencopotan Jenderal Hoegeng secara tiba-tiba tersebut. Nampaknya, sebelum dipensiunkan dini, Jenderal Hoegeng tengah menangani kasus pemerkosaan yang menyita perhatian publik Tanah Air.

Bahkan kasus pemerkosaan tersebut juga masih menjadi misteri bagi sampai saat ini. Kasus pemerkosaan itu dikenal sebagai kasus Sum Kuning. Korban pemerkosaan yang terjadi pada 21 September 1970 itu bernama Sumarijem.

Sumarijem yang masih berusia 18 tahun bekerja sebagai penjual telur. Saat itu selepas pukul 17.00, Sumarijem menunggu bus kota yang tak kunjung datang. Jalan pinggrian Yogyakarta pada tahun 1970 tidak seperti sekarang, saat itu tak banyak orang yang berlalu-lalang

Tiba-tiba mobil nyaris menyerempet Sumarijem. Mobil itu berhenti di depannya. Sejumlah pria berambut panjang keluar dari mobil dan menyeretnya ke dalam mobil.

Sumarijem yang malang dibius oleh pria-pria yang tak dikenal itu Ia diperkosa di kawasan Klaten secara bergilir oleh pria tersebut. Setelah melampiaskan hasratnya, pria tak dikenal itu meninggalkan Sumarijem di pinggir jalan.

Sumarijem yang tak berdaya kemudian mencari pertolongan. Ia tak mau tinggal diam, Sumarijem lantas melaporkan kejadian itu kepada pihak kepolisian. Bukannya perkara menjadi selesai, Sumarijem justru dijadikan tersangka atas tuduhan laporan palsu.

Bahkan Sumarijem dituding sebagai anggota Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani). Sumarijem dituntut tiga bulan penjar adan satu tahun masa percobaan. Namun, majelis hakim menolak tuntutan itu karena tak terbukti membuat laporan palsu.

Akhirnya, Sumarijem terbebas dari hukuman, namun perkara tak berakhir. Polisi justru menghadirkan sosok Trimo yang disebut sebagai ornag yang telah memerkosan Sumarijem. Trimo adalah penjual bakso. Ia tidak mengaku telah memperkosa Sumarijem.

Kasus semakin runyam ketika fakta dipersidangan memperlihatkan bahwa Sumarijem dan Trimo mendapat penganiayaan selama diperiksa polisi. Melihat peliknya kasus ini, Jenderal Hoegeng akhirnya turun tangan.

Jenderal Hoegeng memerintahkan Komjen Suroso untuk mencari orang yang mengetahui fakta di balik pemerkosaan Sumarijem. Tim khusus bernama Tim Pemeriksa Sum Kuning didirikan oleh Jenderal Hoegeng.

“Kita tidak gentar menghadapi orang-orang gede siapa pun. Kita hanya takut kepada Tuhan Yang Maha Esa. Jadi kalau salah tetap kita tindak,” tegas Jenderal Hoegeng, waktu itu.

Kasus pelik ini pun menjadi sorotan media massa. Kabar yang beredar mengatakan pelakunya adalah sejumlah anak pejabat dan anak seorang Pahlawan Revolusi. Namun, mereka tetap membantah tuduhan tersebut.

Kasus Sum Kuning ikut terdengar ke telinga Presiden Soeharto. Ia menilai kasus Sum Kuning mengguncang stabilitas nasional hingga akhirnya harus mengambil langkah tegas. Soeharto memerintahkan penghentian kasus Sum Kuning dan menyerahkannya ke tim pemeriksa Pusat Kopkamtib.

Kemudian, pada sidang lanjutan kasus Sum. Polisi pun mengumpulkan 10 tersangka. Namun, mereka bukanlah anak penjabat yang Sum tuduhkan. Mereka bahkan membela diri dan menyebut siap mati demi menolak tuduhan itu.

Pada akhirnya, Jenderal Hoegeng pun tak bisa berkutik karena dipensiunkan dini. Kariernya yang tiba-tiba merosot, membuat Jenderal Hoegeng mengembalikan semua barang yang dipakai saat menjadi Kapolri. Kemudian, ia pun langsung menghampiri sang ibu.

Momen ini dituliskan dalam buku Hoegeng: Polisi dan Menteri Teladan. “Saya tak punya pekerjaan lagi, Bu,” kata Jenderal Hoegeng bersimpuh di depan ibunya.

Namun, ibunya tetap menenangkan sang anak. “Kalau kamu jujur dalam melangkah, kami masih bisa makan hanya dengan nasi dan garam,” kata sang ibu.

Akhirnya, Jenderal Hoegeng pun tak bisa lagi unjuk gigi memberantas kejahatan. Ia bahkan harus hidup sengsara selama bertahun-tahun. Putra Heogeng, Aditya Soetanto sempat blak-blakan bahwa ayahnya hanya menerima uang pensiun Rp 10 ribu setiap bulan.

Heogeng pun harus banting setir untuk menafkahi keluarganya. a menjelma menjadi seorang pelukis dan menjual lukisannya. Namun, hasil penjualan dari lukisan tak seberapa.

Ia bersama keluarganya harus mengalami masa yang sangat sulit. Ia harus banting tulang karena tak memiliki aset mahal dan berharga. Setelah bertahan 10 tahun, akhirnya ia mendapatkan penyesuaian uang pensiun menjadi Rp 1 juta, pada 2001. Tiga tahun kemudian, ia meninggal karena sakit.

Leave a Comment